Konflik Israel-Hamas Seret Negara Timur Tengah, Bukti Perang Dunia 3?

Jakarta, CNBC Indonesia РKonflik antara Israel dan Palestina telah menjalar menjadi perang regional di kawasan Timur Tengah. Serangan Israel yang meluas tidak hanya di jalur Gaza, membuat konflik semakin panas dan melibatkan lebih banyak kelompok-kelompok bersenjata yang disokong oleh negara seperti Iran.

Terbaru, Israel melakukan aksi pembunuhan terhadap salah satu bos Hamas, Saleh Al Arouri. Wakil pemimpin Hamas yang kerap menjadi juru bicara kelompok tersebut tewas diserang drone di ibu kota Lebanon, Beirut, beberapa waktu lalu.

Serangan di Ibu Kota Lebanon ini jelas membuat pemerintahan negara itu meradang. Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati bahkan menilai serangan itu seakan menyeret negaranya ke dalam konflik regional.

“Bahaya upaya untuk menyeret Lebanon di dalam perang regional… dengan konsekuensi serius, terutama bagi Lebanon dan negara-negara tetangga,” kata Najib seperti dikutip dari The Guardian, Senin (8/1/2024).

Hizbullah, kelompok yang mendukung Hamas dan berbasis di Lebanon merespons serangan Israel dengan menembakkan roket-roket ke wilayah utara negara Zionis tersebut. Hizbullah mengatakan bahwa serangan roket itu hanyalah respons pertama mereka terhadap pembunuhan Arouri.

Selain Hizbullah di Lebanon, kelompok-kelompok bersenjata di Irak juga semakin aktif setelah Israel memulai agresinya ke wilayah Gaza sejak 8 Oktober 2023. Kelompok yang didukung Iran di Irak meningkatkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat.

Sementara kelompok Houthi di Yaman-yang juga didukung Iran-telah meluncurkan serang drone dan mengancam pelayaran komersial di rute Laut Merah. Maraknya serangan di Laut Merah ini direspons AS dengan melancarkan Operation Prosperity Guardian sejak 19 Desember 2023 di kawasan laut tersebut.

Di lain sisi, ISIS juga mengaku bertanggung jawab atas dua ledakan yang menghancurkan kerumunan orang di Iran selatan, dan menewaskan sedikitnya 84 orang. Sedangkan serangan udara AS di Baghdad menewaskan komandan milisi Syiah yang didukung Iran.

Namun, serangan yang dianggap paling berbahaya dan bisa menimbulkan konflik regional adalah serangan Israel di Lebanon. Sebagaimana diketahui, ‘perdamaian yang rapuh’ antara Hizbullah dan Israel sudah bertahan sejak perang Lebanon kedua yang sangat merusak pada 2006.

Serangan Israel terhadap petinggi Hamas di Lebanon dikhawatirkan akan menghancurkan status quo tersebut.

Sekretaris Jenderal Hizbullah, Hassan Nasrallah, menyampaikan dua pidato yang disiarkan secara nasional di televisi setelah pembunuhan Arouri. Nasrallah menyinggung soal aturan tidak tertulis antara Israel dan Hizbullah yang menjaga agar kedua belah pihak tidak sampai terlibat perang habis-habisan.

Pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap Arouri di kawasan Lebanon dianggap telah melewati batas.

“Kita tidak bisa tinggal diam terhadap pelanggaran yang sangat serius ini,” kata dia.

“Karena serangan ini berarti seluruh kita akan terekspos. Semua kota, desa, dan tokoh masyarakat kita akan terekspos,” kata Nasrallah melanjutkan.

Nasrallah juga mengatakan sikap diam hanya akan memberikan kerugian yang lebih besar, dibandingkan risiko melakukan serangan pembalasan kepada Israel. https://outbackball.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*